Google Polusi Elektronik | Dark Wizard of Scientist

April 28, 2013

Polusi Elektronik

Gangguan tidur, sakit kepala, sampai risiko kanker. Benarkah radiasi mengundang penyakit? Atau, semuanya hanya kepanikan belaka? Dalam makalah ini akan diungkapkan hasil penelitian terbaru.
clip_image001
Telepon seluler (ponsel) sudah menjadi bagian hidup kita. Apalagi bagi kebanyakan anak dan remaja, perangkat ponsel dalam saku celana adalah pendamping setia. Akan tetapi, banyak kalangan yang mengkhawatirkan keberadaan tiang pemancar radio bergerak. Mereka takut akan akibat negatif dari radiasi. Menurut sebuah jajak pendapat, cukup banyak orang yang mengkhawatirkan risiko kesehatan akibat tiang-tiang tersebut. Padahal, beban radiasi perorangan akibat menara ini jauh lebih kecil dibanding ketika bertelepon dengan ponsel. Fakta juga menunjukkan bahwa semakin banyak tiang terpasang, semakin rendah radiasi langsung ke telinga.
Gangguan ini umumnya disebabkan oleh radiasi elektromagnetik yang berasal dari jaringan listrik tegangan tinggi atau ekstra tinggi, peralatan elektronik di rumah, di kantor maupun industri. Termasuk telepon seluler (ponsel) maupun microwave oven, ternyata sangat potensial menimbulkan berbagai keluhan tersebut.
Akibat pemberitaan di media massa, ketakutan terhadap pemancar permanen seperti perangkat telepon tanpa kabel dan W-LAN di rumah juga meningkat. Kekhawatiran semakin besar ketika para dokter dan ilmuwan berdebat, sebahaya apa sebenarnya radiasi radio bergerak. Setiap tahun dipublikasikan hasil penelitian baru yang memberi pengetahuan mengenai bahaya radiasi.
 

Preview Polusi Elektronik

clip_image003
Polusi Elektronik adalah radiasi elektromagnetik liar, berupa gelombang radio yang menyebabkan alat elektronik dalam penggunaannya terganggu. Penyebabnya datang dari peralatan elektronik dan listrik. Kejadian yang paling umum adalah gangguan pada televisi, yang tayangannya terganggu ketika tetangga menggunakan alat-alat listrik, dan yang lainnya di sekitar rumah menyala. Di Jerman, polusi akibat gelombang elektromagnetik liar pernah menyebabkan kendaraan di autobahn (jalan bebas hambatan) berhenti tiba-tiba. Penyebabnya karena terdapatnya stasiun radar besar yang menyemprotkan radiasi gelombang mikro. Gelombang berukuran mikro tersebut langsung masuk ke badan mobil, dengan cara menembus kaca atau melalui logam pada badan mobil. Akibatnya, arus dan tegangan yang tak diinginkan muncul pada rangkaian kawat dalam kendaraan , yang lantas menginduksi rangkaian mikrolektronik kendaraan dan membuatnya dalam status mata (off).
Polusi elektronik juga dapat digunakan untuk memata-matai dan mengganggu privasi. Sebagai contoh. Saat memegang pesawat radio atau ponsel aktif dekat monitor PC yang sedang aktif atau televisi, maka layar monitor akan terganggu. Polusi elektronik juga hampir menghentikan konstruksi Stadium King Fahs International di Saudi Arabia, ketika stadion tersebut akan terbakar. Stadion tersebut memiliki 24 mast berlubang, masing-masing setinggi 60 m. Mast disusun dalam lingkaran bergaris tengah 290 m, dan berisi kawat baja sepanjang 20 km yang bias digunakan sebagai pemancar radio. Sekitar 3 km dari stadion, ada stasiun radio yang memancarkan gelombang 1,2 mega watt- kira-kira 60 kali lebih kuat dari stasiun radio biasa. Hingga akhirnya, tegangan sangat besar terinduksi dalam kawat stadion sebesar 4 volt7m. bila nilai ini dikalikan dengan panjang kawat, maka tegangan yang sangat besar. Lampu yang tidak dihubungkan dengan jala-jala listrik pun akan menyala dan remang-remang seirama dengan gelombang radio yang dipancarkan. Loncatan listrik yang terjadi dari tonggak satu ke tongak yang lain, seirama dengan lagu dari stasiun radio. Dengan begitu, pekerjaan pun akan terganggu. 0masalah ini dapat diselesaikan dengan memisahkan struktur itu menjadi struktu yang pendek, dan membumikan setiap bagian yang terpisah. Semua kabel yang mengalirkan sinyal audio dibungkus dengan aluminium tape. Kabel yang membawa sinyal sangat lemah, seperti video digantikan dengan serat optik.
Polusi ini juga dapat membuat pesawat jatuh. Sebagai faktanya, tahun 1984, tornado Fighter milik Angkata Udara jerman, jatuh saat terbang distasiun radio Voice of America dan Radio Free Europa dekat Munich. Kajadian yang sama juga terjadi di Amerika. Beberapa helicopter jatuh ketika terbang di stasiun radio yang snagat kuat. Polusi elektronik dari radar pesawat jet fighter pun dapat membunuh kelici bahkan manusia bila diaktifkan pada jarak tertentu dipermukaan bumi. Kini sudah diproduksi kaca berlapis indium timah oksida yang dapat mencegah lewatnya gelombang radio berfrekuensi 30 MHz – 10 GHz, sehingga dapat menghentikan polusi elektronik.
Setiap perangkat listrik memancarkan radiasi dan akan membentuk medan listrik serta magnetik. Kedua jenis medan ini saling terkait. Setiap arus listrik menimbulkan medan magnet dan berlaku pula sebaliknya. Oleh karena itu, bisa juga disebut radiasi elektromagnetik dan intensitasnya disebut 'Kepadatan arus daya?' dengan satuan Watt/m2 (lihat gambar kiri).  Radiasi elektromagnetik, terutama bervariasi dalam satuan frekuensi. Medan dengan frekuensi di bawah 100 kHz disebut radiasi frekuensi rendah, 100 kHz-100 GHz radiasi frekuensi tinggi dan di   atasnya disebut radiasi optis dalam bentuk cahaya inframerah, cahaya tampak, dan ultraviolet. Sama seperti tingkat frekuensi, efek radiasi pada manusia juga bervariasi. Apabila frekuensi rendah mampu menembus tubuh manusia, pada frekuensi tinggi, daya tembusnya semakin berkurang seiring semakin tinggi frekuensi radiasinya.
Dalam praktiknya, frekuensi rendah adalah produk sampingan dari perangkat elektronik, seperti TV. Sebaliknya radiasi frekuensi tinggi sengaja dibuat secara teknis untuk tujuan tertentu, misalnya pada perangkat ponsel dan microwave.
 

HASIL PENELITIAN

Electrical sensitivity

Sebenarnya telah lama timbul kekhawatiran pada masyarakat akan efek negatif radiasi elektromagnetik terhadap kesehatan, terutama dengan semakin berkembangnya pemanfaatan sumber radiasi nonpengion. Sumber radiasi nonpengion buatan manusia antara lain jaringan listrik tegangan tinggi maupun ekstra tinggi, laser, radar, microwave oven, ponsel, dan sebagainya. Jarang disadari bahwa risiko paling tinggi dari sumber radiasi nonpengion justru berasal dari alam, yaitu sinar ultra violet matahari
Potensi gangguan kesehatan yang timbul akibat pajanan medan elektromagnetik dapat terjadi pada berbagai sistem tubuh, antara lain: (1) sistem darah, (2) sistem reproduksi, (3) sistem saraf, (4) sistem kardiovaskular, (5) sistem endokrin, (6) psikologis, dan (7) hipersensitivitas. Sedangkan manifestasi dari hipersensitivitas dikenal pula dengan istilah electrical sensitivity, yang menggambarkan gangguan fisiologis berupa tanda dan gejala neurologis maupun kepekaan terhadap medan elektromagnetik, dengan gejala-gejala yang khas (Riedlinger, 2004).
Gejala-gejala yang menunjukkan adanya electrical sensitivity sebenarnya banyak sekali, tetapi yang khas antara lain berupa sakit kepala (headache), pening (dizziness), keletihan (fatigue). Tanda dan gejala lain yang dapat dijumpai, misalnya, jantung berdebar-debar (cardiac palpitations), gangguan tidur (sleep disturbances), gangguan konsentrasi (difficulty in concentrating), rasa mual dan gangguan pencernaan lain (nausea and digestive problems) yang tidak jelas penyebabnya, telinga berdenging (tinnitus), muka terbakar (facial burning), dan kulit meruam (rashes), kejang otot (muscle spasme), kebingungan (confusion), serta gangguan kejiwaan berupa depresi (depression) (Rea, 1991; Bergdahl, 1995; Grant, 1995).

Peran hormon melatonin

Penyebab timbulnya gejala dan berbagai keluhan tersebut sangat kompleks dan multifaktor karena dapat menyertai berbagai penyakit. Teori terbaru tentang metabolisme hormon melatonin dan pengaruhnya terhadap timbulnya berbagai gejala dan perubahan suasana hati diharapkan dapat menjelaskan mengapa pajanan medan elektromagnetik dapat menimbulkan berbagai gejala tersebut (Sandyk, 1993).
Hormon melatonin (N-acetyl-5-metoksitriptamin) adalah hormon yang sebagian besar dibuat oleh kelenjar pineal, sebuah kelenjar sebesar kacang tanah yang terletak di antara kedua sisi otak. Hanya sebagian kecil dibuat di usus dan retina mata. Produksi hormon melatonin dapat dipacu oleh gelap dan hening serta dihambat oleh sinar yang terang maupun medan elektromagnetik (Zhdanova, 1995). Melatonin diproduksi dalam jumlah besar sekali pada orang muda, untuk kemudian menurun setelah usia 40 tahun. Penurunan produksi hormon ini menyebabkan berbagai keluhan yang lebih banyak dialami oleh usia tua dibandingkan dengan usia muda. Beberapa gejala yang dapat timbul berkaitan dengan hormon melatonin, antara lain, sukar tidur (insomnia), gangguan pada irama sirkadian, jet lag, serta berbagai gejala lain. Gejala-gejala tersebut berkaitan dengan perubahan metabolisme hormon melatonin yang diproduksi oleh kelenjar pineal. Gejala-gejala tersebut terutama timbul bila produksi hormon melatonin berkurang (Dollins, 1994).
Produksi hormon melatonin bertambah pada malam hari, terutama pada suasana hening dan gelap sehingga menyebabkan orang mudah tidur. Namun, produksi hormon ini berkurang oleh adanya rangsangan dari luar, misalnya cahaya serta medan elektromagnetik. Cahaya maupun pajanan medan elektromagnetik dapat menurunkan produksi hormon melatonin dan berpotensi menimbulkan berbagai keluhan, termasuk sakit kepala, pening, dan keletihan.

Dari 'tidak berbahaya' hingga risiko tumor dan kerusakan gen

Penggunaan radio bergerak frekuensi tinggi di dunia menimbulkan perdebatan di kalangan pakar: Apakah radiasi frekuensi tinggi mengandung risiko kesehatan bagi manusia? Pakar yang kritis mengatakan "ya". Pendapat mereka disokong dengan bukti bahwa semakin banyak orang mengeluhkan gangguan tidur, sakit kepala atau 'tidak enak badan' secara umum.
Masalah-masalah kesehatan ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan efek termalnya saja (pemanasan jaringan tubuh manusia akibat radiasi frekuensi tinggi). Efek yang jauh lebih buruk seperti menimbulkan kanker juga dituduhkan pada radiasi frekuensi tinggi. Sejumlah penelitian besar telah dilakukan untuk menggali bukti-bukti penting. WHO pun turun tangan dengan melakukan riset. Jajak pendapat yang dilakukan oleh Interphone di bawah payung WHO ini dilakukan di 13 negara dengan jumlah responden 15.000 orang. 
Akhir Januari lalu para peneliti di Jerman mempublikasikan hasil mereka. Kesimpulannya: Ponsel dan telepon DECT tidak meningkatkan risiko tumor ganas walau digunakan setiap hari secara intensif. Seringnya penggunaan maupun dekatnya jarak ke base station DECT (misalnya di sisi tempat tidur) tidak akan mempengaruhi jumlah penderita kanker. Dalam hasil penelitian di negara lain yang telah lebih dulu dipublikasikan, para ilmuwan sampai pada kesimpulan yang sama. Ini menumbuhkan harapan bahwa radiasi frekuensi tinggi tidak memiliki efek penimbul kanker pada manusia. Memang, kemungkinan peningkatan risiko tumor pada mereka yang menggunakan ponsel secara intensif sejak 10 tahun belakangan tidak dapat diabaikan. Namun telepon jaringan C yang umum digunakan 10 tahun lalu memiliki intensitas radiasi yang lebih tinggi dibandingkan ponsel modern jaringan D dan E. Oleh karena itu, hasil tersebut dalam kaitannya dengan beban radiasi masa kini lebih merupakan alasan yang melegakan.
Pada pertengahan tahun ini, semua hasil penelitian dari setiap negara akan digabungkan. Jumlah responden yang sangat besar akan memberi kesimpulan yang lebih dapat diandalkan.  Hasil penelitian nova-Institut 'Observasi beban EMVU akibat W-LAN' di Huerth, Jerman, pada tahun 2004 jugamenunjukkan bahwa beban radiasi akibat penggunaan jaringan secara intensif jauh lebih kecil daripada yang selama ini dikhawatirkan. Bahkan, tingkat radiasi di dekat sebuah Access Point hanya sebesar 0,0025 W/m2. Nilai tersebut hanya 0,025% dari nilai batas maksimal.  "Risiko tumor untuk kelompok penduduk di sekitar stasiun TV telah meningkat hampir 3 kali lipat.“ Dr. Hort Eger, Kepala Penelitian Radio Bergerak di Naila
Penelitian lain seperti yang dilakukan sekelompok dokter dari Naila di Franken, Jerman, tahun 2004 mencapai hasil yang berbeda. Mereka berkesimpulan bahwa risiko tumor di dekat tiang pemancar radio bergerak lebih tinggi 2,35 kali.  Namun beberapa faktor mengurangi relevansi penelitian tersebut. Jumlah kasus penderita yang hanya 34 orang pun dinilai terlalu sedikit, pemilihan 967 responden sangat tidak spesifik dan penyebab kanker lainnya sama sekali tidak diperhitungkan. Tentu saja, hasil penelitian ini tidak bisa diabaikan, tetapi dari sudut pandang ilmiah, kurang berarti.
Para dokter dari Naila tidak sendirian, Asosiasi Penelitian REFLEX pada tahun 2005 telah membuktikan di 11 laboratorium bahwa gelombang radio bisa menyebabkan kerusakan gen pada kultur sel tertentu. Pengukuran dilakukan dengan intensitas radiasi setara percakapan telepon yang berefek pada kepala. Prof.Dr. Adlkofer, koordinator program yang didukung Uni-Eropa tersebut mengatakan sendiri, percobaan dalam tabung reaksi tidak dapat ditransfer ke mahluk hidup. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menyimpulkan risiko radiasi pada manusia.
Baru-baru ini, sebuah riset dalam rangka 'Program Penelitian Radio Bergerak' telah dilakukan di Jerman. Penelitian ini akan mengorek pengurangan kualitas tidur akibat radio bergerak. KITA akan terus memberitakan mengenai penelitian ini.

Nilai batas

Hanya melindungi dari bahaya yang telah terbukti Pihak terkait dari pemerintah tentu harus melindungi warganya. Akan tetapi mereka hanya bisa meredam bahaya yang telah terbukti, misalnya dengan menetapkan nilai batasan hukum yang ketat. Hingga kini, yang jelas terbukti baru efek termal radiasi. Efek ini menyebabkan suhu tubuh manusia meningkat 1 derajat Celsius atau kurang, dan menurut mereka ini tidak berbahaya bagi kesehatan.
Selain itu daya tembus radiasi ke dalam tubuh juga penting. Semakin tinggi frekuensi radiasi, semakin rendah daya tembusnya. Pada ponsel dalam jaringan D 900 MHz, radiasi masuk hingga 2,5 cm, sementara pada jaringan E 1.800 MHz, hanya 1 cm. Kementerian Federal Jerman untuk Lingkungan misalnya, tidak menetapkan batas umum. Mereka menetapkan nilai batas yang berbeda-beda untuk setiap frekuensi. Dengan bantuan kalkulator, batasan-batasannya bisa mudah dihitung. Frekuensi x 0,0050875 = nilai batas [Watt/m2]. Untuk sumber radiasi frekuensi tinggi, nilai tersebut antara 2-10 Watt/m2. Untuk 2 GHz ke atas, ditetapkan nilai maksimal 10 Watt/m2.
Idealnya perlu dibentuk sebuah lembaga yang mengawasi agar ketentuan nilai-nilai batas tersebut terpenuhi. Dengan demikian efek termal perangkat yang diijinkan beredar di konsumen tidak perlu ditakuti. Namun belum ada ketentuan mengenai nilai batas untuk efek non-termal.

SAR: Intensitas Radiasi Ponsel

clip_image004Tahun 2001 semua produsen utama telah menyepakati sebuah proses pengukuran untuk menentukan beban radiasi dari ponsel yang disebut SAR (Specific Absorption Rate). Nilai ini menunjukkan intensitas radiasi dalam satuan Watt, yang dipancarkan sebuah ponsel ke dalam kepala pada power transmisi maksimal. Intensitas ini dibagi dengan berat tubuh manusia.
Oleh karena pengukuran realistis dalam kepala manusia tidak dapat dilakukan, digunakan sebuah kepala buatan yang disebut 'Phantom'. Di dalamnya terdapat sensor-sensor yang mencatat radiasi ponsel. Dalam interval waktu 6 menit, radiasi maksimal dikonversi menjadi nilai SAR. Semakin rendah nilai SAR, semakin lemah radiasi yang dipancarkan ponsel dalam kasus ekstrem. Jika nilai ini di bawah nilai batas yang ditentukan (2,0 W/kg  untuk bagian tubuh termasuk kepala atau 0,08 W/kg untuk seluruh tubuh), model ponsel tersebut baru boleh dipasarkan.
Pengukuran Sar: Pada kepala Phantom tampak betapa intensitas radiasi terpusat pada telinga. Namun 'telinga panas' bukan disebabkan oleh radiasi, melainkan akibat baterai ponsel yang panas atau ponsel ditekan terlalu kuat pada telinga.
Sertifikasi lingkungan 'Blue Angel' mensyaratkan nilai yang lebih ketat. Di sini nilai SAR harus berada di bawah 0,6 W/kg. Setidaknya 30% model ponsel yang beredar di pasaran memenuhi persyaratan ini.
 

Tips: Mengurangi polusi elektromagnetik

Electrical sensitivity merupakan salah satu penyakit lingkungan. Bagaimana pun penyakit lingkungan yang diderita oleh manusia bukan semata-mata berasal dari radiasi elektromagnetik semata.
Banyak polutan yang berupa gas buang dari kendaraan bermotor, industri, maupun aktivitas manusia yang lain berisiko menimbulkan gangguan kesehatan. Jadi, sulit memprediksi apakah berbagai keluhan yang timbul itu semata-mata hanya berasal dari radiasi elektromagnetik.
Meskipun demikian, di samping tetap memerhatikan prosedur tetap penggunaan berbagai peralatan yang berisiko menimbulkan radiasi elektromagnetik, ada beberapa hal yang dapat memperkecil risiko gangguan kesehatan, antara lain:
* Dalam menggunakan peralatan elektronik apa pun, misalnya komputer, televisi, dan hair dryer, sebaiknya dengan membuat jarak sejauh mungkin dari sumber pajanan, sedangkan waktu kontak diusahakan seminimal mungkin.
* Meskipun microwave oven hanya memerlukan waktu sangat pendek untuk memanaskan makanan, dalam prosesnya jangan ditunggu apalagi dalam jarak sangat dekat. Alat ini menghasilkan energi foton yang sangat besar dan berisiko mengganggu kesehatan apabila tidak mematuhi prosedur penggunaannya. Khusus bagi ibu hamil pada tiga bulan pertama harus lebih waspada lagi.
* Kecuali microwave oven, telepon seluler juga menghasilkan energi foton yang sangat besar dan potensi radiasinya lebih besar dibandingkan dengan peralatan elektronik maupun jaringan listrik tegangan tinggi dan ekstra tinggi.
Meskipun sangat membantu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari, seyogianya waktu penggunaannya dibatasi. Jangan selalu mengantonginya, terutama pada saku baju kiri, apalagi bila menggunakan alat pacu jantung.
DR ANIES MKK PKK Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro

sumber : kompas.com

clip_image006
Bagaimanapun juga, akan lebih baik jika sedapat mungkin kita menghindari kemungkinan radiasi elektromagnetik. Beberapa tips berikut bisa Anda ikuti.
Sumber radiasi ponsel: Hindari percakapan bila penerimaan buruk, karena ponsel akan mengirim sinyal dengan tenaga maksimal untuk mencapai tiang relay.
»Bicara singkat dan jelas. Percakapan yang lama meningkatkan radiasi dalam kepala. Jika perlu gunakan sms, waktu kirim singkat dan radiasi tidak mengarah ke kepala.
»Jangan bertelepon dalam mobil. Rangka mobil dapat memantulkan sinyal. Untuk mengatasinya ponsel harus mengirim sinyal lebih kuat dan berarti meningkatkan beban radiasi.
»Gunakan handsfree. Headset bluetooth radiasinya lebih rendah dibanding tanpa headset. Lebih baik lagi menggunakan handsfree dengan kabel.
»Ketika membeli ponsel perhatikan agar nilai SAR-nya serendah mungkin di bawah 1,0 W/kg seperti pada banyak model baru (misalnya Samsung SGH-1300 dalam gambar). Sebagai perbandingan sertifikasi lingkungan 'Blue Angel' mengijinkan hingga 0,6 W/kg.
clip_image008
Sumber radiasi telepon DECT: Singkirkan base-station (yang tetap memancar sinyal dalam kondisi standby) dari dekat Anda. Sebaiknya letakkan di lorong ruangan. Jika ingin membeli yang baru, pilihlah model yang berhenti memancar sinyal ketika unit terkoneksi dengan telepon.
 
 
 
 
 
       clip_image010
Sumber radiasi W-LAN: Matikan Access Point bila tidak digunakan. Jika terlalu merepotkan, banyak perangkat yang menawarkan pilihan untuk mengurangi intensitas power transmisi.
 
 
 
 
clip_image012
Sumber radiasi gelombang mikro: Jangan menatap piringan dalam microwave saat bekerja. Walaupun hanya makanan yang perlu dipanaskan, tanpa sengaja radiasi juga bisa terpantul keluar. Semakin jauh Anda berada, semakin baik.
 
 
 
clip_image014
Sumber radiasi TV: Jagalah jarak menonton Anda. Duduk terlalu dekat pesawat TV tidak hanya buruk bagi mata, tetapi juga meningkatkan radiasi yang terserap tubuh.
 

  

KESIMPULAN

Perkembangan teknologi yang semakin hari semakin canggih, beberapa teknologi baru diciptakan menimbulkan berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif. Namun yang lebih banyak ditimbulkan adalah dampak negatif.
Kerusakan akibat polusi elektromagnetik belum terbukti
Walau media massa senang membuat panik, hasil rangkaian pengukuran saat ini berbicara lain. Intensitas radiasi frekuensi tinggi langsung pada perangkat sumbernya masih jauh di bawah nilai batas, hanya seperseratusnya! Hampir semua perangkat, seperti Access Point untuk W-LAN dan bluetooth atau base-station DECT bahkan memenuhi persyaratan dari nova-Institut, dan hanya 1% dari batas yang ditetapkan pemerintah. Di sini efek samping yang secara ilmiah belum terbukti pun sudah diperhitungkan. Akan tetapi, kemungkinan ilmiah risiko kesehatan akibat radiasi juga tidak dapat ditutup.

Judul : Polusi Elektronik
Disusun Oleh : Fisika Nondik 2008 UNIMED
Referensi : Dari berbagai Sumber
Technorati Tags: ,,,,Sains,Fisika
Share this post

1 comments

  1. Terima kasih atas informasinya, kami dari TOA jogja :)
    TOA

    ReplyDelete

Comment & suggestion....

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© 2013 Dark Wizard of Scientist
Original Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSS Comments RSS
Back to top